elkottosay…

historis,edukatif,inspiratif,rekreatif

Persaudaraan yang tulus

Persaudaraan yang tulus,masih adakah?untuk waktu sekarang ini mungkin agak sulit menjawabnya.mungkinelkottosay sama dengan ungkapan masyarakat “hari gini masih ada orang baik” jadi untuk jawabanya pasti tiap orang berbeda untuk menjawabnya,begitu parah atau hilang kah rasa itu di masyarakat atau setiap individu saat ini.

Masyarakat yang Individualis ini menyebabkan beberapa tatanan atau etika dalam masyarakat dan pertemanan jadi hilang,begitu sulit untuk menerima kelebihan teman atau orang lain,mudah tersinggung dan cepat marah,tidak bisa memaafkan setiap kesalahan yang kecil atau menyelesaikan masalah dengan main hakim sendiri.
Pada masa perang uhud ada salah satu kisah tentang persaudaraan yang tulus di tunjukan oleh para sahabat Rasulullah SAW,ketika perang sudah selesai Umar Bin Khatab berkeliling memeriksa para sahabat yang terluka dan beliau mendengar rintihan seorang pemuda yang merintih minta air,setelah di dekati ternyata pemuda ini terluka parah.Saat Umar ra ingin menyuapkan air kemulutnya,terdengar lagi rintihan dari sebelah lainnya meminta air.

Pemuda itu berkata kepada Umar ra untuk mendahulukan memberi minum kepada yang barusan meminta air,begitu juga saat akan memberi minum kembali terdengah rintihan minta air dari tempat lainnya.sama dengan pemuda tadi,dia menyuruh umar ra untuk mendahulukan temannya itu di beri air.

Umar bin Khatatab ra dengan bergegas mendekati orang yang ketiga itu,namun sesampai umar ra disana,orang sudah menghembuskan nafas terakhir.dan umar ra pun kembali ke pemuda yang kedua tadi dan dia pun sudah syahid,begitu juga dengan pemuda yang pertama sama dengan saudara2 nya yang lain,dia juga sudah meninggal menyusul saudara2 nya..

Subhanallah..,dengan mengalah atau lebih mementingkan saudara nya para pemuda itu akhirnya meninggal atau syahid hampir bersamaan.
Para pemimpin kita dulu mungkin juga terinspirasi dari kisah ini,sehingga dengan tulus dan ikhlas untuk tidak memaksakan kehendak atau merasa lebih berhak untuk menjadi pemimpin atau memegang sebuah jabatan padahal mereka juga punya kemampuan atau kapasitas untuk itu.dalam masyarakat kita pun seringkali para orangtua mengajarkan untuk suka berbagi dengan tulus dengan saudara-saudara kita atau dengan orang lain.

Mungkinkah rasa Persaudaraan yang tulus dan suka memaafkan,dan mau menerima kelebihan orang lain ini bisa kembali kita rasakan dalam bermasyarakat sehingga tidak akan ada perkelahian karena sesama teman,kerusuhan antar kampung,maupun perang di dunia ini?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*